Titiek Soeharto: Reformasi Gagal, Era Soeharto Lebih Baik

Jika dilihat secara mendalam, memang era reformasi atau setelah kejatuhan Soeharto belum berjalan secara maksimal. Bahkan ada yang mengatakan gagal. Hutang luar negeri semakin besar, tembus di angka Rp 4000 T, rupiah kian melemah (14.000 per dolar), ekonomi juga belum membaik dan belum lagi kondisi lainnya. Tidak sedikit pula yang membandingkan era reformasi sekarang dengan era Soeharto. Salah satunya adalah Titiek Soeharto.

Era Reformasi Belum Membaik

Anggota DPR Siti Hediati Herijadi, atau lebih dikenal dengan nama Titiek Soeharto, putri kedua almarhum mantan presiden Soeharto, baru-baru ini mengatakan hal yang cukup mengejutkan. Dia mengatakan bahwa gerakan reformasi, yang dimulai setelah jatuhnya kepemimpinan ayahnya pada tahun 1998, belum berjalan dengan baik. Bahkan tidak sedikit menganggap bahwa negara salah atur atau dipimpin oleh orang tidak kompeten.

Titiek yang berbicara pada acara ulang tahun Supersemar ke-5 pada hari Minggu, mengklaim bahwa kondisi Indonesia belum membaik secara signifikan walaupun sudah dilakukan reformasi selama 20 tahun setelah era Orde Baru berakhir. Tentu saja ini menjadi perhatian serius sekaligus keprihatinan dirinya akan nasib bangsa dan negara.

Supersemar sendiri merupakan singkatan dari Surat Perintah 11 Maret, adalah sebuah dokumen yang ditandatangani oleh mantan presiden Soekarno pada tahun 1966, di mana dia memberi wewenang kepada Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan kondisi sosial dan politik setelah kudeta pro komunis yang gagal tahun 1965

Kandidat Presiden 2019

Banyaknya masalah dan semakin memburuknya kondisi bangsa dan negara membuat banyak orang menaruh harapan judi togel hk besar pada saat pilpres 2019 nanti. Tidak sedikit juga yang ingin kembali ke masa Soeharto karena dianggap lebih nyaman, harga-harga lebih murah, kondisi politik dan ekonomi lebih kondusif hingga daya saing negara juga tinggi.

Titiek Soeharto juga senada dengan hal tersebut di atas.”Era Soeharto lebih nyaman, kan? (Era) ini menjamin pasokan makanan dan lapangan kerja bagi rakyatnya,” katanya seperti dikutip Tempo. Ungkapan seperti itu juga diaminkan oleh banyak masyarakat di Indonesia yang mengharapkan kondisi negara lebih baik seperti di zaman Soeharto mengingat kondisi saat ini sangat sulit bagi mereka.

Titiek melanjutkan: “Sejarah negara kita telah membuktikan kebaikan dan keramahan Soeharto sepanjang 32 tahun di masanya. Banyak orang masih merindukan dan berdoa untuknya”. Ini bisa dilihat dari banyaknya stiker bergambar mantan presiden Soeharto melambaikan tangan dan terdapat tulisan ‘Piye kabare? Enak Jamanku Toh’. Selain itu, makam Soeharto juga selalu ramai akan peziarah.

Para ahli menganggap pernyataannya sebagai tanda yang jelas atas kebangkitan dan kembalinya keluarga marga Soeharto dalam pentas politik negara. Pusat Peneliti Politik Bidang Strategis Internasional (CSIS) J. Kristiadi mengatakan pada hari Senin, pernyataan dari sekretaris jenderal Sekjen AHM Ahmad Hadari, yang mendukung putra bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra, untuk menjadi kandidat dalam pemilihan presiden 2019, memberi sinyal yang jelas tentang kebangunan rohani keluarga Soeharto.

Situasi seperti itu terjadi karena demokrasi di Indonesia tidak berjalan seperti yang diharapkan. “Lembaga demokrasi telah gagal memenangkan kepercayaan masyarakat,” kata Kristiadi. Kegagalan demokrasi ini bisa dimanfaatkan oleh keluarga Soeharto untuk mengembalikan kepercayaan publik akan kehidupan yang pernah mereka rasakan di bawah kepemimpinan Soeharto. Hanya saja, ini bukan langkah yang mudah mengingat beberapa kandidat presiden seperti Jokowi dan Prabowo terus bersaing ketat di kancah politik nasional.